oleh : Adi Toha *

Musashi, dan Taiko mungkin menjadi rujukan setiap orang manakala ingin
membaca kisah Samurai Jepang. Karya Eiji Yoshikawa tersebut memang
tidak bisa dipungkiri telah menjadi raja untuk karya-karya fiksi yang
mengambil latar sejarah Jepang dalam kaitannya dengan Samurai dan
Shogun. Namun siapa sangka jika Lian Hearn mampu menggebrak genre karya
fiksi Samurai tersebut dengan karya fenomenalnya: Kisah Klan Otori?
Lian
Hearn, penulis Australia kelahiran Inggris dengan nama asli Gillian
Rubinstein menghadirkan warna baru dalam kisah sejarah Jepang dan
Samurai lewat karyanya Kisah Klan Otori (Tales Of The Otori). Kisah
Klan Otori adalah sebuah karya trilogi ditambah satu sequel dan satu
prequel. Buku pertama berjudul Across The Nightingale Floor, buku kedua
adalah Grass For His Pillow, dan buku ketiga adalah Brilliance Of The
Moon. Sequel-nya adalah The Harsh Cry Of The Heron, dan prequel-nya
adalah Heaven’s Net Is Wide. Empat dari lima buku telah diterbitkan dan
telah beredar dalam edisi bahasa Indonesia, sedangkan prequel-nya akan
diterbitkan pada akhir 2007.
Kisah berawal dari sebuah
pembantaian massal dilakukan oleh Iida Sadamu, pemimpin klan Tohan
–klan yang paling berkuasa di Tiga Negara– terhadap semua penduduk
Mino, sebuah desa terpencil hanya karena penduduk Mino adalah penganut
ajaran Hidden. Hidden adalah sebuah kelompok masyarakat yang menganut
paham keagamaan yang mempercayai adanya Tuhan tak kasat mata, menentang
pembunuhan dan bunuh diri. Hal ini sangat berbeda dengan kepercayaan
orang-orang dan para ksatria pada jaman itu. Semua penduduk Mino tewas
kecuali seorang anak remaja yang berhasil lolos karena tanpa
disadarinya ia dapat membelah tubuhnya menjadi dua. Nama anak remaja
itu adalah Tomasu. Dalam sebuah pengejaran, Tomasu tiba-tiba
diselamatkan oleh Lord Shigeru, pemimpin Klan Otori, musuh besar Klan
Tohan, sampai akhirnya Tomasu diangkat anak oleh Lord Shigeru karena
kemiripannya dengan adik Shigeru, Otori Takeshi yang telah dibunuh oleh
Klan Tohan. Tomasu berganti nama menjadi Takeo.
Takeo ternyata
adalah keturunan dari Tribe, suku pembunuh yang memiliki kemampuan bela
diri dan supranatural luar biasa, dan Takeo mewarisi kemampuan luar
biasa itu dalam dirinya. Pada suatu malam, kemampuan itu terbukti
ketika Shigeru diselamatkan oleh Takeo yang dengan indera
pendengarannya yang sangat tajam memperingatkan Shigeru akan adanya
seorang pembunuh bayaran yang tengah mengintainya. Pembunuh bayaran
tersebut ternyata berasal dari suku Tribe. Menyadari kemampuan luar
biasa Takeo, Shigeru membawanya ke Hagi untuk dilatih dan dipersiapkan
menjadi pewaris Klan Otori serta sebuah rencana lain yang telah Shigeru
persiapkan untuknya. Pengangkatan anak dan pewarisan Klan Otori kepada
Takeo ditentang oleh petinggi klan Otori, termasuk yang paling keras
menentang adalah Otori Shoici dan Otori Masahiro, paman Shigeru.
Shigeru
meminta Takeo untuk membunuh Iida diam-diam di kastilnya di Inuyama,
karena hanya Takeo-lah yang bisa melintasi Nightingale Floor yang
dipasang di sekitar kediaman Iida dengan kemampuan Tribe yang
dimilikinya. Nightingale Floor adalah lantai yang bisa berbunyi dan
bernyanyi nyaring bila seseorang berjalan di atasnya. Dan Takeo telah
membuktikan kemampuannya saat ia mampu melintasi Nightingale Floor
tanpa membuatnya bersuara di kediaman Shigeru.
Di satu sisi,
Iida Sadamu juga telah mempersiapkan rencananya sendiri untuk
melenyapkan Shigeru dan klan Otori dari peta Tiga Negara. Dengan
bekerjasama dengan kedua paman Shigeru yang licik, Iida menjodohkan
Shigeru dengan Shirakawa Kaede, putri sulung dari Lord Shirakawa,
pemimpin klan Shirakawa yang dijadikan tawanannya di kastil Noguchi.
Kisah menjadi semakin pelik ketika pada suatu pertemuan, Takeo dan
Kaede saling jatuh cinta. Sementara, Shigeru sebenarnya telah menjalin
hubungan asmara dengan Lady Maruyama Naomi, pemimpin klan Maruyama.
Keadaan
bertambah rumit dengan keterlibatan suku pembunuh Tribe yang mengetahui
bakat dan kemampuan Takeo yang diwarisinya. Tribe hendak mengambil
Takeo untuk dididik menjadi seorang pembunuh rahasia. Tribe tidak
menghendaki seorang pun lepas dari bayang-bayang aturan suku rahasia
yang telah dianut turun temurun. Sementara di satu sisi, kepentingan
Shigeru atas Takeo sangatlah besar untuk membawa kedamaian di Tiga
Negara.
Tarik menarik kepentingan antara Shigeru, Tribe dan Iida
itulah kurang lebih isi dari buku pertama, Across The Nightingale
Floor. Meskipun tokoh sentral adalah Tomasu –yang beralih nama menjadi
Takeo– namun karakter Shigeru sangat kuat dan mendominasi. Meski pada
akhirnya Shigeru meninggal dunia di tangan Iida Sadamu, namun
pengaruhnya tidak akan pernah hilang baik pada diri Takeo maupun
orang-orang di sekeliling Shigeru. Di sinilah mungkin letak kelebihan
dan kekurangan Hearn. Di satu sisi, ia begitu kuat dalam menggambarkan
karakter Shigeru, namun di sisi lain, penggambaran karakter Takeo,
masih lemah, padahal Takeo-lah yang memegang kelanjutan kisah. Karakter
Takeo mulai berkembang pada buku kedua, Grass For His Pillow.
Kisah
pasca kematian Otori Shigeru dan Iida Sadamu dan pengaruhnya terhadap
peta kekuasaan klan di Tiga Negara, menjadi kelanjutan kisah dalam
Grass For His Pillow. Setelah Takeo membalaskan kematian Shigeru,
sesuai janjinya kepada Tribe, Takeo memilih untuk mengikuti panggilan
hidupnya sebagai seorang Tribe. Takeo meninggalkan Kaede dan
meninggalkan statusnya sebagai seorang Otori dan berlatih bersama Tribe
untuk meningkatkan kemampuannya. Di satu sisi, setelah kematian Lady
Maruyama –pemimpin klan Maruyama– oleh rencana licik Iida, Shirakawa
Kaede menjadi pewaris sah klan Maruyama karena ia-lah satu-satunya
kerabat terdekat Lady Maruyama.
Melewati rentang waktu bersama
Tribe, Takeo akhirnya mengetahui lebih banyak tentang identitas dirinya
sendiri, tentang Tribe dan tentang ayah angkatnya, Shigeru yang
ternyata menyimpan sebuah catatan rahasia tentang seluk beluk suku
pembunuh Tribe. Catatan inilah yang diburu oleh Tribe demi keselamatan
dan keamanan suku tersebut. Tribe memerintah Takeo untuk mengambilnya
di rumah Shigeru. Lewat pergulatan batin yang begitu dalam, Takeo
akhirnya memutuskan untuk lari dari Tribe setelah ia berhasil mengambil
catatan Shigeru itu.
Dalam sebuah pelarian, Takeo diselamatkan
oleh Jo-An, seorang gelandangan pemeluk ajaran Hidden, ajaran yang
mempercayai adanya Tuhan Rahasia yang Satu dan menganggap semua manusia
sama di hadapan-Nya. Oleh Jo-An, Takeo dipertemukan oleh seorang
perempuan pertapa di gunung yang mengatakan ramalan tentang Takeo bahwa
hanya Takeo-lah yang bisa membawa perdamaian di Tiga Negara. Ramalan
perempuan suci juga terkait dengan lima peperangan yang harus dilalui
Takeo sebelum kedamaian benar-benar terwujud: empat kali peperangan
akan berakhir dengan kemenangan dan satu kali berakhir kekalahan; juga
ramalan tentang kematian Takeo. Dengan bantuan beberapa orang
kepercayaannya, termasuk Jo-An, Takeo akhirnya membangun kekuatan
perang di Biara Terayama.
Sementara itu, Kaede berusaha untuk
meyakinkan dirinya dan orang-orang di sekitarnya bahwa dia berhak untuk
menjadi pewaris sah klan Maruyama dan ikut berperan dalam dunia para
ksatria. Meski mendapat tentangan yang keras dari ayahnya sendiri dan
bermacam-macam intrik yang melemahkannya, Kaede berusaha untuk tetap
tegar dalam menghadapi keinginannya untuk tidak kalah dari laki-laki.
Sambil menunggu Takeo menjemputnya, Kaede belajar untuk menjadi seorang
perempuan yang kuat untuk mempersiapkan diri menjadi pemimpin klan.
Di
buku ketiga, Brilliance Of The Moon, Takeo mulai menggerakkan pasukan
dan kekuatan yang dimilikinya di biara Terayama keluar untuk mengambil
hak istrinya Kaede dalam mewarisi wilayah Maruyama, sekaligus untuk
mempersiapkan sumberdaya yang dibutuhkan untuk menyerang Hagi guna
mengambil haknya sebagai pewaris klan Otori, memenuhi amanat Otori
Shigeru. Kematian Ichiro, guru Takeo yang dibunuh oleh kedua paman
Shigeru yang licik, Shoichi dan Masahiro, semakin memperkuat tekadnya
untuk merebut Hagi. Berbekal ramalan yang telah didengarnya dari
perempuan suci, Takeo bermaksud menjalani “lima peperangan yang akan
membayar perdamaian”.
Maruyama yang sebelumnya dipimpin oleh
seorang perempuan (Maruyama Naomi) menyambut baik kedatangan Kaede dan
pengambilan haknya sebagai pewaris Maruyama. Takeo dan pasukannya
akhirnya membangun kekuatan di Kastil Maruyama sebelum melanjutkan
rencananya untuk menyerang Hagi, dengan dibantu oleh gerombolan bajak
laut yang menghuni pulau Oshima, sebuah pulau yang terletak di dekat
Hagi. Bajak laut yang dipimpin oleh keluarga Terada juga mempunyai
kebencian yang sama kepada Shoichi dan Masahiro, kedua paman Shigeru
yang menguasai Hagi.
Sementara itu, keretakan mulai terjadi di
kalangan suku Tribe, suku pembunuh yang memburu Takeo untuk mengambil
kembali catatan Shigeru mengenai seluk beluk Tribe yang ada pada Takeo.
Keluarga Muto dan Keluarga Kikuta, dua keluarga yang berpengaruh di
Tribe, berselisih setelah Muto Yuki, anak perempuan Muto Kenji, ketua
keluarga Muto yang juga guru Shigeru dan Takeo, dibunuh oleh Kikuta
Kotaro, ketua keluarga Kikuta. Yuki dibunuh setelah ia melahirkan
seorang anak laki-laki hasil hubungannya dengan Takeo.
Sebagai
buku terakhir dari trilogi Kisah Klan Otori, Brilliance Of The Moon
merupakan jawaban dari seluruh teka-teki yang telah muncul sejak dari
buku pertamanya, Across The Nightingale Floor. Intrik-intrik mulai
terkuak, rahasia-rahasia mulai jelas, teka-teki mulai terjawab,
meskipun jawaban-jawaban itu akan menimbulkan pertanyaan-pertanyaan dan
teka-teki yang masih mengambang. Teka-teki dan pertanyaan itulah yang
akan terjawab di sequelnya, The Harsh Cry Of The Heron. Yang menarik,
penulis sedikit mengambil latar masuknya senjata api ke jepang untuk
pertama kalinya. Dikisahkan, perompak yang dipimpin oleh keluarga
Terada telah membajak sebuah kapal milik orang kulit putih dan
menemukan sepucuk senjata api.
Kemenangan pasukan Takeo atas
pasukan Arai Daichi, lewat campur tangan gempa bumi seakan hendak
mengukuhkan kemenangan Takeo sebagai keinginan surga, sebagaimana
ramalan perempuan suci. Dengan kemenangan itu, klan Otori menjadi
penguasa Tiga Negara dan Takeo menyatukan Tiga Negara dalam damai tanpa
peperangan.
The Harsh Cry Of The Heron, mengambil latar 16 tahun
setelah Lord Otori Takeo dan Kaede mulai memerintah Tiga Negara. Tiga
Negara menjadi negeri yang damai, makmur dan sejahtera. Semua rakyat
mencintai mereka. Takeo dan Kaede dikaruniai tiga putri yang cantik
jelita dan menawan: si sulung Shigeko dan kedua adik kembarnya Maya dan
Miki. Namun, hal ini tidak membuat hidup Takeo menjadi lebih tenang. Ia
kembali teringat dengan ramalan perempuan suci. Ramalan perempuan suci
yang pernah ditemuinya mengatakan bahwa ia akan mati di tangan putra
kandungnya sendiri.
Sementara itu, Arai Zenko, putra Arai
Daichi, yang oleh Takeo diberi kekuasaan di wilayah Kumamoto, ternyata
masih menyimpan dendam kepada Takeo, yang telah mengakibatkan kematian
ayahnya, Arai Daichi, yang tidak terhormat: tertembak oleh senjata api.
Bersama dengan Hana, istrinya, yang juga adik kandung Kaede, ia mulai
membangun kekuatan untuk merongrong kedamaian Tiga Negara. Ia
bekerjasama dengan orang asing untuk mendapatkan pasokan senjata api,
yang sangat dibatasi penggunaannya oleh Takeo. Zenko juga bersekongkol
dengan Lord Kono, putra Lord Fujiwara yang merupakan kerabat Kaisar
penguasa Delapan Pulau.
Kemakmuran dan kemajuan Tiga Negara
ternyata juga mengundang kecemburuan dan kecurigaan Kaisar dan
jendralnya, Lord Saga Hideki. Mereka bermaksud mengambil alih Tiga
Negara dengan dalih bahwa kekuasaan Takeo atas Tiga Negara tidak sah.
Takeo pun berencana pergi ke Miyako, ibukota kekaisaran untuk meminta
restu Kaisar sekaligus melegalkan kekuasaannya atas Tiga Negara.
Di
saat yang sama, kehadiran si kembar Maya dan Miki, dianggap kutukan
oleh Kaede dan orang-orang yang masih belum menerima keberadaan anak
kembar. Kaede sangat mengharapkan kehadiran anak laki-laki, sedang
Takeo justru mengharapkan sebaliknya. Takeo mengkawatirkan kemampuan
Tribe yang dimiliki oleh Maya dan Miki. Kemampuan keduanya membuat
mereka mampu masuk ke dalam dunia lain: dunia bayangan, arwah dan hantu.
Di
tempat lain, kebencian dan dendam keluarga Kikuta kepada Takeo tidak
kunjung padam. Akio, ketua Kikuta -setelah kematian Kikuta Kotaro di
tangan Takeo- bersekutu dengan Arai Zenko untuk menggiring Takeo kepada
kematiannya. Hisao, anak laki-laki Takeo dari Yuki yang ada di bawah
didikan Akio, dimanfaatkan oleh musuh-musuh Takeo setelah mereka
mengetahui rahasia Takeo yang sebenarnya. Hisao ternyata memiliki
kemampuan untuk mengendalikan arwah dan orang mati.
Sementara
Takeo, Shigeko dan beberapa ksatria tangguh Tiga Negara: Sugita Hiroshi
dan Miyoshi Gemba melakukan perjalanan ke ibukota untuk menemui Kaisar;
Zenko, Hana dan Akio mulai melakukan aksinya untuk membalas dendam.
Tiga Negara di ambang kehancuran. Kedamaian dan kemakmuran yang telah
dibangun oleh Takeo dan Kaede berada diujung tanduk. The Harsh Cry of
The Heron, sebagai buku terakhir menyambung trilogi Kisah Klan Otori,
merupakan konklusi akhir dari seluruh kisah perjalanan Otori Takeo.
Feodalisme
Sekat
antara kaum bangsawan dan ksatria dengan rakyat biasa sangat kentara
dalam karya Lian Hearn. Baik kaum bangsawan maupun kaum ksatria sangat
menjaga jarak dengan kaum gelandangan dan rakyat biasa. Bahkan karakter
Takeo pun bukanlah karakter hitam atau putih. Sebaik-baiknya Takeo, ia
masih menyimpan pertanyaan di dalam dirinya, mengapa ia harus bergaul
dengan Jo-An dan para gelandangan yang lain, meskipun pada sebuah
kesempatan, mereka telah membantu Takeo.
Pun jika pada
akhirnya, Takeo berusaha mengikis sekat-sekat itu, para bangsawan dan
ksatria lain di sekelilingnya merasa bahwa hal itu tidak semestinya
dilakukan. Para ksatria selalu merasa risih manakala harus berdekatan
dengan para gelandangan, meskipun jelas-jelas para gelandangan itu
telah membantu mereka merebut kemenangan dalam sebuah pertempuran.
Tidak
hanya sekat antara kaum bangsawan dan ksatria dengan rakyat biasa,
tetapi sekat antara laki-laki dan perempuan sangat lebar. Kaum
perempuan tidak diperkenankan untuk memegang posisi-posisi penting
dalam masyarakat. Hanya klan Maruyama, satu di antara banyak Klan di
Tiga Negara yang memuliakan perempuan untuk menjadi pemimpin mereka.
Diskriminasi
ini semakin tampak manakala Shirakawa Kaede, harus menjadi pemimpin
klan Shirakawa, setelah kematian ayahnya, dan juga mewarisi klan
Maruyama setelah kematian Maruyama Naomi, pemimpin klan Maruyama
sebelumnya. Ia mendapat tentangan-tentangan dan gunjingan-gunjingan
yang melemahkan kedudukannya sebagai pemimpin klan. Kaede harus bekerja
keras agar disamakan dengan laki-laki, ia harus bersikap dan bertindak
dengan cara laki-laki, berbicara dengan bahasa laki-laki, dan belajar
bagaimana seorang laki-laki dalam memimpin klan.
Feodalisme yang
jelas terlihat adalah wilayah-wilayah dan kekuasaan yang terbagi dalam
klan-klan. Masing-masing klan memimpin dan bertanggung jawab terhadap
kehidupan rakyat yang hidup di wilayah kekuasaannya. Petani-petani
memberikan sebagian hasil panennya kepada penguasa klan. Kelas-kelas
dalam masyarakat terbagi menjadi petani atau pekerja, prajurit dan
ksatria.
Hidden = Kristen dan Kristenisasi
Sejak
buku pertama, Lian Hearn mendeskripsikan ajaran kaum Hidden persis
seperti ajaran kristen. Kaum Hidden, di mana Takeo lahir dan dibesarkan
sampai remaja, mempercayai adanya Tuhan yang Satu dan tak kasat mata,
tidak percaya kepada dewa-dewa, dan melakukan ritual doa setiap pagi.
Mereka dilarang membunuh dan menyakiti diri sendiri dan orang lain.
Ajaran mereka adalah kasih sayang dan melarang berperang. Tentu saja
hal itu bertentangan dengan ajaran para ksatria pada jaman itu yang
menganggap mati di medan perang, dan mati bunuh diri demi menjaga
kehormatan adalah sebuah kebanggaan. Itulah alasan mengapa Iida Sadamu
membantai kaum Hidden di Mino, desa tempat tinggal Takeo. Ajaran Hidden
banyak dianut oleh para gelandangan dan rakyat biasa secara
sembunyi-sembunyi.
Jika ditilik lebih jauh, sebenarnya nama-nama
penganut kaum Hidden yang digunakan Hearn ada kemiripan dengan
nama-nama dalam Kristen. Tomasu, nama kecil Takeo, adalah ejaan bahasa
Jepang untuk Thomas, salah satu orang suci atau Saint (St. Thomas)
dalam kristen. Jo-An, terdengar sangat mirip dengan Joan, salah satu
orang suci dalam ajaran kristen (St. Joan). Bahkan Jo-An, pada akhirnya
dianggap oleh para gelandangan sebagai orang suci setelah mengorbankan
dirinya demi keselamatan Takeo (sangat mirip dengan kisah pengorbanan
St. Joan, bukan?)
Namun, anggapan tersebut tertepis di buku The
Harsh Cry Of The Heron. Di sini, Hearn menambahkan latar masuknya
ajaran kristen yang asli yang dibawa oleh orang-orang Barat ke Jepang
lewat para pedagang dan missionaris. Tentu saja mereka tidak mudah
untuk menyebarkan ajaran mereka. Benturan-benturan dengan ajaran
pribumi –ajaran Houou yang mirip dengan ajaran Shinto– dan ajaran Sang
Pencerah –yang mirip dengan ajaran Budha– tetap saja terjadi, meskipun
Takeo telah menolelir setiap ajaran dan kepercayaan apapun yang dianut
oleh rakyatnya. Bahkan, Takeo memilih untuk tidak menganut ajaran
apapun.
Ninja Vs Samurai
Deskripsi tentang
suku pembunuh Tribe dalam Kisah Klan Otori sangat mirip dengan Ninja,
seni beladiri yang terkenal di Jepang. Dengan demikian, bisa dibilang,
Kisah Klan Otori adalah sebuah kisah pertarungan abadi antara Ninja
dengan Samurai. Ninja sebagai sebuah kelompok rahasia yang bergerak di
bawah tanah, sedangkan Samurai adalah kelompok ksatria yang dekat
dengan penguasa. Namun Hearn meramunya dengan hal-hal yang bersifat
supranatural, fantasi dan mistis. Di sinilah letak perbedaan karya
Hearn dengan karya-karya sejenis dari penulis lain.
Disebutkan
bahwa setiap keturunan Tribe memiliki kemampuan istimewa yang tidak
dimiliki oleh manusia biasa. Seperti halnya Takeo, ia memiliki
kemampuan untuk membelah tubuhnya menjadi dua, mempunyai pendengaran
yang tajam melebihi indra manusia, kemampuan meringankan tubuh dan
menghilang, serta kemampuan bela diri lainnya. Demikian halnya dengan
kedua anak kembarnya, Maya dan Miki, serta anak laki-lakinya, Hisao.
Mereka memiliki kemampuan dalam memasuki dua dunia: dunia manusia dan
dunia arwah.
Sementara di satu sisi, kaum ksatria, yang
menjunjung tinggi kemampuan dari latihan keras, menganggap bahwa kaum
Tribe adalah para penyihir. Otori Shigeru, meskipun ia berasal dari
kaum ksatria, mampu melihat dengan jelas pertentangan kedua kutub ini.
Namun, ia tidak terjebak di dalamnya, malahan dengan cerdas dan lihai
mampu memanfaatkan kelebihan yang dimiliki oleh Tribe untuk mewujudkan
kedamaian. Ia dengan lihai merangkul Muto Kenji dan Muto Shizuka serta
mendidik Takeo untuk membantunya mewujudkan keinginannya membawa
kedamaian di Tiga Negara.
***
Secara keseluruhan, Lian
Hearn berhasil membuat sebuah kisah epik yang menarik tentang masa-masa
feodal kekaisaran Jepang. Ia berhasil menggabungkan antara fakta
sejarah dengan kisah fantasi, supranatural, peperangan dan kisah cinta
yang mendebarkan. Perjuangan Takeo dan Kaede untuk menyatukan cinta
mereka meski banyak halangan dan tentangan, menjadi sebuah kisah
percintaan yang sangat menyentuh. Intensitas Hearn dalam membangun
karakter tokoh-tokohnya, akan membuat siapapun yang membaca Kisah Klan
Otori dibawa untuk membenci atau menyukai tokoh-tokohnya. Sayangnya,
banyak tokoh yang mengundang emosi dan simpati, pada akhirnya harus
berakhir tragis, seperti halnya Otori Shigeru yang telah memikat
pembaca sejak awal, kisahnya harus berakhir di separuh awal buku
pertama. Namun, untuk mengobati keingintahuan para pembaca terhadap
kisah Otori Shigeru, sebuah prequel Kisah Klan Otori, yakni Heaven’s
Net Is Wide akan segera diluncurkan. Buku prequel ini berkisah tentang
kehidupan Otori Shigeru sebelum menemukan Takeo.
Lian Hearn,
hanyalah nama samaran yang digunakan oleh Gillian Rubinstein untuk
menulis Kisah Klan Otori. Gillian Rubinstein, dengan nama aslinya telah
menulis berpuluh-puluh novel dan cerita bergambar untuk anak-anak di
antaranya adalah: The Whale’s Child (2002), Terra Farma (2001), The
Mermaid of Bondi Beach (1999), Under The Cat’s Eye (1997) dan masih
banyak yang lainnya. Ia menulis Kisah Klan Otori setelah dalam sebuah
kesempatan berkunjung ke Jepang dan terpesona akan keunikan dan
keragaman budayanya. Lewat karyanya ini, Hearn layak untuk disejajarkan
dengan pengarang-pengarang kisah samurai Jepang seperti Eiji Yoshikawa
dan Takashi Matsuoka. ***
Adi Toha, Cerpenis, Penyair, Pemalu.