Satu kata: pusing.
Mungkin benar, pekerjaan pengarang ya ngarang. Pekerjaan penulis ya menulis. Sedangkan urusan edit mengedit serahkan saja kepada editor. Ada yang bilang, pengarang, pada saat yang bersamaan menjadi pembaca pertama, dengan demikian pengarang harus bisa kritis terhadap karyanya sendiri. Tapi, susah untuk melakukan hal ini. Saya, terutama kadang terjebak pada kepuasaan karena telah melahirkan rangkaian kata ataupun cerita yang mungkin menurut pandangan pembaca tidak penting bahkan cenderung melantur, sehingga sayang untuk menghilangkannya begitu saja. Mungkin inilah problem penulis pemula seperti saya.
Sering ketika membaca tulisan-tulisan yang sempat dimuat di media dan mengalami pemangkasan-pemangkasan membuat saya mengumpat "Sialan, yang bagian ini dipotong! padahal sudah setengah mati mikirnya." Tapi ya, itu tadi, kekesalan sekadar kekesalan. Mungkin redaksi mempertimbangkan hal lain.