Jumat sore aku ke Jatos, bermaksud mencari buku karya Amin Maalouf yang berjudul Samarkand, cetakan kedua. Kalo ngeliat di situs penerbit serambi, buku itu sudah terbit, dengan cover dan judul baru, judulnya: Misteri Rubaiyat Omar Khayyam. Buku ini berkisah tentang perjalanan, petualangan dan misteri Rubaiyat Omar Khayam. Omar Khayam adalah pujangga persia yang sangat termasyur. Rubaiyat (sajak empat baris seuntai atau kuatrin)-nya menjadi puncak kepunjanggaannya yang terus dibaca dan dipelajari sampai sekarang. Nah, dalam buku ini, Amin Maalouf mereka-reka kisah Omar Khayam dengan dua sahabat karibnya, Hasan Sabah dan Nizamul Mulk. Tiga kawan karib ini pada akhirnya menjadi musuh. Hasan Sabah menjadi pendiri kelompok pembunuh Hasasin yang terkenal itu, dan Nizamul Mulk menjadi Petinggi istana yang diincar Hasan untuk dibunuh, sedang Omar berada di antaranya. Perseteruan Hasan dan Nizam adalah kisah sejarah.
Aku pernah membaca buku ini, sangat menarik, menghibur dan inspiratif. Aku telah menulis reviewnya diblog http://jalaindra.wordpress.com. Salah satu kalimat dalam review itulah yang akhirnya dipilih oleh penerbit serambi untuk dicantumkan di blurb cover buku “Misteri Rubaiyat Omar Khayam”. Ituah mengapa, sore kemarin aku berniat mencari buku itu, siapa tahu sudah ada di toko buku Tisera jatos ataupun di BBC.
Masuk ke Jatos, langsung menuju BBC di lantai bawah dan tenggelam ke dalam judul-judul buku. Ternyata buanyak sekali buku-buku baru yang menarik untuk dibaca dan jaminan bagus. Tetapi, prioritas utama tetap ingin mencari buku Amin Maalouf itu. Dan ternyata di BBC tidak ada.
Menuju ke lantai atas, masuk ke Tisera. Mata menekuri judul-judul buku yang dipajang. Menuju ke display sastra dan kamus di bagian pojok, ternyata saya malah menemukan buku kecil, novel AURA, karya Carlos Fuentes. Novel ini beberapa minggu kemarin, sebelum lebaran sempat aku cari-cari. Alasan mencari novel ini karena aku sedang membaca novel Fuentes yang lain, yang berjudul Diana, dan aku suka. lalu aku ingat suatu ketika pernah melihat novel kecil Fuentes di Tisera.
Saat hendak mengambil buku kecil Fuentes itu, ada seseorang yang memanggil. Hai Hai. Aku menengok. Ternyata itu adalah Pak Tito, dari Penerbit Pustaka Hidayah, yang sedang duduk di mimbar luas tempat biasa diadakan acara di jatos. Segera aku hampiri. Aku pernah menjalin kerjasama dengan Pak Tito sewaktu masih membuka toko buku tiga tahun silam. Dan terus terang, aku berhutang budi banyak kepada Pak Tito yang baik hati itu. Obrolan terjadi, saling menanya kabar dan perkembangan perbukuan. Sebenarnya, aku ingin menanyakan kepada Pak Tito (mumpung ketemu) apakah Pustaka Hidayah membutuhkan tenaga semacam Editor atau Proff Reader atau apalah, dan saya ingin menawarkan diri. Hehehe.. tapi tak enak rasanya.
Aku menyudahi obrolan. Pak Tito melanjutkan keperluannya dengan pihak Tisera, aku kembali berkeliling membaca judul2 buku. Ada buku Samarkand, tetapi masih cetakan yang pertama. Keluar dari Jatos dengan membawa novel pendek Fuentes, AURA.
Malamnya, novel kecil itupun tuntas kubaca. Tidak butuh waktu lama untuk membaca novel pendek itu. Cuma, butuh untuk membaca ulang karena ternyata Aura tidak mudah dipahami. Menggunakan sudut pandang orang kedua, Fuentes berkisah tentang seorang laki2 Felipe Montero yang bekerja di rumah seorang janda jendral perancis, Senora Consuelo yang muram. Dalam rumah tersebut ia bertemu dengan Aura, gadis cantik menawan yang misterius.
Beberapa menit setelah membaca baris terakhir Aura, akupun terlelap, dan anehnya, aku bermimpi bertemu dan ngobrol panjang lebar dengan seorang kawan, Dwi Cipta, penerjemah novel Diana, karya Fuentes yang lain. Hahahaha..