Feed on
Posts
comments

matamu kutub utara
benua dingin bersalju
aku beku. aku kelu
ah, tak mengapa
mungkin aku bisa menari di permukaan licinnya
meluncur, menaklukkan puncak-puncak gunungnya
tapi selalu saja aku tak berani
aku pernah terjatuh beberapa kali.

senyummu kutub selatan
samudera dingin nan dalam
aku tenggelam. aku karam.
ah, tak mengapa
mungkin aku bisa berenang di kedalaman birunya
menyelam, mencari mutiara di dasar palung-palungnya
tapi selalu saja aku tak berani
aku pernah tenggelam dan hampir mati.

tapi hadirmu adalah katulistiwa
membawa kehangatan pagi dan ketenangan senja
aku hanyut dalam jingganya

Jatinangor, 051108, selepas sore itu.

Jumat sore aku ke Jatos, bermaksud mencari buku karya Amin Maalouf yang berjudul Samarkand, cetakan kedua. Kalo ngeliat di situs penerbit serambi, buku itu sudah terbit, dengan cover dan judul baru, judulnya: Misteri Rubaiyat Omar Khayyam. Buku ini berkisah tentang perjalanan, petualangan dan misteri Rubaiyat Omar Khayam. Omar Khayam adalah pujangga persia yang sangat termasyur. Rubaiyat (sajak empat baris seuntai atau kuatrin)-nya menjadi puncak kepunjanggaannya yang terus dibaca dan dipelajari sampai sekarang. Nah, dalam buku ini, Amin Maalouf mereka-reka kisah Omar Khayam dengan dua sahabat karibnya, Hasan Sabah dan Nizamul Mulk. Tiga kawan karib ini pada akhirnya menjadi musuh. Hasan Sabah menjadi pendiri kelompok pembunuh Hasasin yang terkenal itu, dan Nizamul Mulk menjadi Petinggi istana yang diincar Hasan untuk dibunuh, sedang Omar berada di antaranya. Perseteruan Hasan dan Nizam adalah kisah sejarah.

Aku pernah membaca buku ini, sangat menarik, menghibur dan inspiratif. Aku telah menulis reviewnya diblog http://jalaindra.wordpress.com. Salah satu kalimat dalam review itulah yang akhirnya dipilih oleh penerbit serambi untuk dicantumkan di blurb cover buku “Misteri Rubaiyat Omar Khayam”. Ituah mengapa, sore kemarin aku berniat mencari buku itu, siapa tahu sudah ada di toko buku Tisera jatos ataupun di BBC.

Masuk ke Jatos, langsung menuju BBC di lantai bawah dan tenggelam ke dalam judul-judul buku. Ternyata buanyak sekali buku-buku baru yang menarik untuk dibaca dan jaminan bagus. Tetapi, prioritas utama tetap ingin mencari buku Amin Maalouf itu. Dan ternyata di BBC tidak ada.

Menuju ke lantai atas, masuk ke Tisera. Mata menekuri judul-judul buku yang dipajang. Menuju ke display sastra dan kamus di bagian pojok, ternyata saya malah menemukan buku kecil, novel AURA, karya Carlos Fuentes. Novel ini beberapa minggu kemarin, sebelum lebaran sempat aku cari-cari. Alasan mencari novel ini karena aku sedang membaca novel Fuentes yang lain, yang berjudul Diana, dan aku suka. lalu aku ingat suatu ketika pernah melihat novel kecil Fuentes di Tisera.

Saat hendak mengambil buku kecil Fuentes itu, ada seseorang yang memanggil. Hai Hai. Aku menengok. Ternyata itu adalah Pak Tito, dari Penerbit Pustaka Hidayah, yang sedang duduk di mimbar luas tempat biasa diadakan acara di jatos. Segera aku hampiri. Aku pernah menjalin kerjasama dengan Pak Tito sewaktu masih membuka toko buku tiga tahun silam. Dan terus terang, aku berhutang budi banyak kepada Pak Tito yang baik hati itu. Obrolan terjadi, saling menanya kabar dan perkembangan perbukuan. Sebenarnya, aku ingin menanyakan kepada Pak Tito (mumpung ketemu) apakah Pustaka Hidayah membutuhkan tenaga semacam Editor atau Proff Reader atau apalah, dan saya ingin menawarkan diri. Hehehe.. tapi tak enak rasanya.

Aku menyudahi obrolan. Pak Tito melanjutkan keperluannya dengan pihak Tisera, aku kembali berkeliling membaca judul2 buku. Ada buku Samarkand, tetapi masih cetakan yang pertama. Keluar dari Jatos dengan membawa novel pendek Fuentes, AURA.

Malamnya, novel kecil itupun tuntas kubaca. Tidak butuh waktu lama untuk membaca novel pendek itu. Cuma, butuh untuk membaca ulang karena ternyata Aura tidak mudah dipahami. Menggunakan sudut pandang orang kedua, Fuentes berkisah tentang seorang laki2 Felipe Montero yang bekerja di rumah seorang janda jendral perancis, Senora Consuelo yang muram. Dalam rumah tersebut ia bertemu dengan Aura, gadis cantik menawan yang misterius.

Beberapa menit setelah membaca baris terakhir Aura, akupun terlelap, dan anehnya, aku bermimpi bertemu dan ngobrol panjang lebar dengan seorang kawan, Dwi Cipta, penerjemah novel Diana, karya Fuentes yang lain. Hahahaha..

[Puisi] Kau di Kepalaku

hei cantik, berhentilah sejenak
tidakkah kau lelah, berlarian di kepalaku?
duduklah, lihatlah luasan cakrawala
yang membiaskan wajahmu yang jelita

atau berjalanlah pelan-pelan
sapa setiap dedaunan yang embun dipucuknya
tercermin wajahmu yang tanpa cela

sentuhlah butirannya dengan jemarimu
dan embun itu akan luruh memercik
di atas rerumputan yang adalah kehidupan
yang lahir dari jejak tapak kakimu

lihatlah capung dan kupu-kupu
yang adalah gema dari setiap kata indah
yang pernah kauucap. melayang di sekelilingmu
biarkan mereka hinggap di genggaman tanganmu

melangkahlah sebentar ke bukit timur
akan kautemukan rumah yang menghadap ke barat
di sisinya sebuah kolam air
yang adalah muara dari setiap peluh dan tangis

lihatlah ke dasarnya
membayang di atas bebatuan dan ikan-ikan
adalah matahari yang memantul dari kedalaman matamu

jatinangor, 250908

26

Genap sudah 26 tahun aku mendiami tubuh yang mendiami dunia ini. Tak ada perayaan. Tak ada penyesalan, meski ada sedikit duka. Melihat lagi jejak-jejak yang telah terlewati. Memandang lagi rencana-rencana dan peta perjalanan yang masih sangat jauh harus kutempuh. Aku tak ingin berhenti hanya di titik ini. Titik yang tidak di mana pun. Kadang aku berpikir. Kenapa aku harus sampai di titik ini, tidak di titik yang lain. Adakah ini keharusan takdir?

Meski demikian, aku harus berterima kasih kepada orang-orang, kepada peristiwa-peristiwa, kepada kegagalan-kegagalan, yang telah mengantarku ke titik ini, untuk melanjutkan kembali perjalanan ke titik-titik berikutnya dan berikutnya lagi, sampai ke titik akhir, di mana segala sesuatunya menjadi terang benderang.

so.. the journey continues.. through the path of life.. my own path, not your path, not their path.

Mengedit

Satu kata: pusing.

Mungkin benar, pekerjaan pengarang ya ngarang. Pekerjaan penulis ya menulis. Sedangkan urusan edit mengedit serahkan saja kepada editor. Ada yang bilang, pengarang, pada saat yang bersamaan menjadi pembaca pertama, dengan demikian pengarang harus bisa kritis terhadap karyanya sendiri. Tapi, susah untuk melakukan hal ini. Saya, terutama kadang terjebak pada kepuasaan karena telah melahirkan rangkaian kata ataupun cerita yang mungkin menurut pandangan pembaca tidak penting bahkan cenderung melantur, sehingga sayang untuk menghilangkannya begitu saja. Mungkin inilah problem penulis pemula seperti saya.

Sering ketika membaca tulisan-tulisan yang sempat dimuat di media dan mengalami pemangkasan-pemangkasan membuat saya mengumpat "Sialan, yang bagian ini dipotong! padahal sudah setengah mati mikirnya."  Tapi ya, itu tadi, kekesalan sekadar kekesalan. Mungkin redaksi mempertimbangkan hal lain.

Pingin Beli Buku:

Sudah lama tidak beli buku baru. Beberapa kali jalan ke Jatos, tujuannya langsung ke lantai bawah, ke BBC, melototin judul-judul buku yang terpajang, siapa tahu ada yang menarik untuk dibeli. Ke toko buku, selalu menjadi siksaan tersendiri. Pertama, begitu banyak buku yang pingin dibeli, dibaca, dan diresensi, tapi apa daya, isi kantong selalu tidak bisa diajak kompromi, apalagi harga buku-buku baru dan bagus sekarang mahal-mahal. Untuk buku yang setidaknya memenuhi standar selera bacaku harganya mininal 30 ribuan. Apalagi novel-novel bagus dari Serambi, Gramedia, dan Mizan, rata-rata 50 ribuan. Gila, 50 rb, men. Aku harus puasa gak makan gak jajan gak ngopi gak udud beberapa hari untuk bisa beli.

Kemarin ngelihat novel "Things Falls Apart" Chinua Achebe, di Tisera Jatos, berasa pingin beli. Tapi ngelihat harganya, Towewew… mikir-mikir. Apalagi aku sedang nyari kumcer Korea "Laut dan Kupu" harganya 40 ribu, beberapa kali ke BBC belum ada juga. Rencananya sih, pingin ikut lomba esai "mengenal budaya korea lewat cerpen". Sudah lama tidak menulis resensi buku, ingin berlatih menulis lagi.

Ngelihat novel Orhan Pamuk - Snow di display, selalu ingin beli. Meskipun akhirnya selalu tidak beli -lagi-lagi karena harga, selalu saja buku itu aku ambil, aku pegang-pegang, timang-timang, baca blurbnya berulang-ulang. Ngelihat novel Amin Maalouf - Samarkand, aku ambil juga. Novel ini udah saya baca. Beberapa hari kemarin, sebuah email dari Serambi masuk ke inbox, meminta ijin untuk memuat komentarku atas novel itu di cetakan keduanya. Hahaha. Surprise. Agak tidak percaya, aku belum sekapable itu untuk memberi endorsment sebuah buku, apalagi ini novelnya Amin Maalouf. Memangnya siapa saya ini. Tentu saja saya mengijinkan. Terserah nantinya jadi dimuat ato gak komentarku itu di buku cetakan kedua, tidak jadi soal. Kalo dimuat ya senang sekali, kalo gak jadi ya, gak apa-apa.

Ngeliat buku-buku terbitan Matahati, ngiler, pingin baca: Dragon Keeper, Purple Dragon, Children of The Lamp, Alchemist, Flyte, Soul Eater, dan Outcast. Huaaaa. Kapan bisa beli buku segitu banyak.

Ngelihat "Lolita" Nabokov, semakin sedih rasanya. Muahal, gak kebeli. Meski dah pernah nonton film yang diadaptasi dari buku itu, tetap ingin baca versi teksnya. People said, it was one of the greatest novel ever.

Ah, banyak sekali buku yang ingin dibeli.

dan lima batang rokok kretek menjadi teman jaga
mendengar sambil lalu khutbah di televisi
mengingat kembali risalah nabi-nabi

ah, ramadhan datang lagi
belum juga aku bersiap diri.

/1/

di lika-liku malam kota ini
aku selalu teringat wajahmu

kita pernah bersama membaca arah
menunjuk tanda-tanda

banyak simpang kita lalui
kita singgah di setiap ujungnya
saling membaca diam

kugenggam tanganmu, kaubertanya:
siapa menggenggam siapa?
siapa memeluk siapa?

di lika-liku malam kota ini
aku selalu teringat pelukmu

/2/
bilik bambu, pagar perdu
rumah tua, pinggir kota

kita pernah bersama melukis peta
mereka mimpi-mimpi

banyak garis kita tandai
kita singgah di setiap ujungnya
saling memesan kepulangan

kaumemelukku, aku bertanya
sampai kapan?
seberapa jauhkah?

di lika-liku malam kota ini
aku mencari jalan pulang

:di pelukmu tak pernah ada sepi

jatinangor, 280708

Society You’re Crazy

It’s a mistery to me. we have a greed. with which we have agreed.

You think you have to want. more than you need. until you have it all you won’t be free.

society, you’re a crazy breed. I hope you’re not lonely without me.

When you want more than you have. you think you need. and when you think more than you want. your thoughts begin to bleed.

I think I need to find a bigger place. ‘cos when you have more than you think. you need more space.

society, you’re a crazy breed. I hope you’re not lonely without me. society, crazy and deep. I hope you’re not lonely without me.

there’s those thinking more or less less is more. but if less is more how you’re keeping score? Means for every point you make. your level drops. kinda like its starting from the top. you can’t do that…

society, you’re a crazy breed. I hope you’re not lonely without me. society, crazy and deep. I hope you’re not lonely without me.

society, have mercy on me. I hope you’re not angry if I disagree. society, crazy and deep. I hope you’re not lonely without me.

-Eddie Vedder, Into The Wid - Society-

Tentangmu Yang Tiba-Tiba

:V

bagaimanakah cara aku mengusirmu
yang tiba-tiba hinggap di ranting-ranting sunyi ingatan,
bersenandung dengan kata-kata, kalimat dan lagu-lagu yang sederhana,
yang bahkan tidak berirama namun aku tetap mendengarnya sebagai sebuah kidung
karena aku tenggelam dalam metafora

kau melompat-lompat dari satu lipatan ke lipatan lain
dari satu kerutan ke kerutan lain

bagaimanakah cara
aku tak bisa mengikuti gerak-gerikmu untuk kemudian menghalau
dan mengusirmu dari pohon kesadaran yang merimbun di tempurung kepalaku
kau berlari berpindah-pindah dari satu ingatan ke ingatan lain
lebih cepat daripada kejutan listrik dari sinapsis ke sinapsis

apa kubiarkan saja kau bermain-main sepuasnya
bergelantungan pada neuron-neuron dan beradu cepat dengan aliran darah
dalam perlombaan mendetakkan jantung

aku tahu kau selalu dapat memenanginya
karena setiap aku memikirkanmu
jantungku berdetak begitu hebat.

Jatinangor, 13 Februari 2008

Older Posts »